Pengalaman Au Pair

Semenjak saya duduk di bangku sekolah SMU, saya sudah bercita cita untuk
bepergian melihat dunia luar. Mengunjungi monumen-monumen bersejarah di Yunani, mengagumi pemandangan indah di Italia, melancong ke Paris dan mengunjungi Louvre atau belajar bahasa dan kebudayaan bangsa lain. Selepas lulus dari Akademi, saya mendapatkan tawaran untuk menjadi Au Pair
di Jerman dari mantan dosen bahasa Jerman saya di Tarakanita. Rupanya beliau masih ingat keinginan saya dulu ingin belajar bahasa Jerman langsung di negara asalnya. Tawaran untuk menjadi Au Pair tersebut datangnya dari sebuah keluarga campuran Indonesia- Jerman di Altena, propinsi Nordrhein-Westfalen. Kontan saja saya tergiur dengan tawaran beliau, saya pun akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya sebagai sekretaris di sebuah perusahaan kontraktor minyak asing di Jakarta. Usia saya saat itu adalah 21 tahun. Berbekal bahasa Jerman pas-pasan (sempat les juga di Goethe Institut di Menteng hingga awal intermediate level) saya akhirnya terbang ke Jerman.

Keputusan saya tidak sepenuhnya didukung oleh kedua orangtua saya. Mereka berpikir bahwa sayang sekali resign dari pekerjaan yang kala itu bergaji lumayan untuk seorang fresh graduate seperti saya. Dan menurut mereka, Jerman sangatlah jauh dan mereka tidak siap untuk kehilangan saya. Namun, keputusan saya sudah bulat. Saya tidak ingin terjebak oleh kehidupan rutin saya. Kerja lembur, pulang malam dan langsung tidur dan keesokan harinya begitu lagi seterusnya 5 kali seminggu. Untuk seseorang berjiwa petualang seperti saya hal tersebut sangatlah membosankan!.

Sebelum saya berangkat, saya sebenarnya tidak tahu apa sih sebenarnya Au Pair itu. Yang saya tahu adalah, bahwa saya akan tinggal bersama host family dan tugas saya mencakup menjaga, bermain dan antar jemput sekolah anak bungsu mereka. Selebihnya waktu yang saya punya bisa dipergunakan untuk sekolah bahasa dan memperdalam pengetahuan saya mengenai budaya bangsa Jerman. Hal ini telah disepakati oleh kami berdua, host family dan saya sendiri. Ternyata sesampainya disana, tugas saya tidak hanya antar jemput dan bermain bersama anak mereka. Tetapi juga harus membantu sang Ibu dalam urusan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, berbelanja, mencuci laundry, membuat bekal makanan anak, membersihkan rumah, setrika, membersihkan toilet dan masih banyak lagi. Sama sekali berbeda dengan apa yang mereka katakan sebelum saya memutuskan untuk berangkat ke Jerman dan tinggal bersama keluarga ini. Alhasil, waktu yang saya punya pun tidak cukup untuk memuasi keinginan saya untuk pergi ke sekolah atau belajar.

Sewaktu masih tinggal di rumah, hidup kami sangatlah dimanja jika dibandingkan dengan kehidupan keluarga di Eropa. Ada si mbak yang membantu keluarga saya dalam urusan rumah tangga. Memasak apa saja yang kami suka, mencuci dan menyetrika pakaian kami serta membersihkan rumah kami. Jujur saya bukanlah tipe anak manja, saya pun punya tugas sehari hari di rumah. Seperti mengepel dan menyiram bunga. Kedua adik saya mengerjakan tugas lain seperti menyapu rumah dan membersihkan taman. Namun, memasak sama sekali bukan keahlian saya. Ibu saya pun tidak pernah mengajarkan saya memasak karena beliau sendiri suka sebal karena saya ini selebor di dapur. Keluarga di Eropa biasanya melakukan segalanya sendiri karena jasa pembantu sangatlah mahal dan dibayar per jam.

                        { from the scene Nanny Diaries the movie, pic is from here}

 

Pengalaman saya sebagai Au Pair di Jerman banyak sekali. Selain menjadi lebih mandiri karena saya harus bepergian, dan mengatur segalanya sendiri, saya belajar berani mengemukakan pendapat secara lantang. Selain itu, saya bertemu dengan sahabat saya, Kateland, seorang exchange student asal USA. Kami masih bersahabat baik sampai saat ini, 6 tahun kemudian. Kateland bahkan sempat mengunjungi saya di Amsterdam 2 tahun yang lalu 🙂

Au Pair adalah kesempatan yang unik untuk para pemuda-pemudi yang ingin mengenal kebudayaan lain dan belajar mandiri. Banyak sekali yang bisa didapat dan dipelajari. Salah satu saran saya untuk anak muda yang ingin sekali mencoba untuk menjadi Au Pair adalah, alangkah baiknya untuk mengerti hak-hak kalian dan jangan takut untuk bertanya dan bersuara. Dan harus research dulu sebelum memutuskan untuk pergi ke suatu negara karena masing masing negara mempunyai peraturan sendiri mengenai Au Pair dan segala sesuatunya yang menyangkut dengan Au Pair. Seperti, berapa jam per minggu seharusnya Au Pair itu harus bekerja (rata rata antara 24-30 jam saja), uang saku yang harus diperoleh, dll. Tidak hanya Au Pair, masih banyak cara lain untuk mengenal negara dan budaya luar lainnya, seperti language summer programs, international camp school, atau exchange student programs.

Advertisements

9 thoughts on “Pengalaman Au Pair

  1. Walaunya banyak yang mengira Au pair mudah dilaksanankan, ternyata di lapangan sangat berbeda ya. Teman kursus saya asal Polandia ada yang ke Jerman sebagai Au Pair, ya kerjaannya seperti yang Oppie ceritakan diatas, karena tidak tahan, jadi temanku itu cuma 1 thn kerja, trus dia lanjut sekolah.

    • Hi Nella 🙂 Memang namanya tinggal di luar negeri trus numpang di rumah orang aja pasti rasanya jg sudah beda. Menurut aku, tergantung juga sama host family nya. Kalau mereka pengertian dan sadar akan hak dan kewajiban antara Au Pair dan host family kayaknya sih bakal asik deh jadi Au Pair! Makanya saran aku buat orang2 yg ingin nyobain jd Au Pair, orientasi dulu,banyak2 research dan kenalan dulu sama host family nya 🙂

      • Bisa juga telepon2an dulu dan dari kita nya yg harus kritis, tanya tanya ttg pas kita move in,kerjaan apa aja yg hrs kita lakuin,hak kita apa dan apa yg bisa dia ksh ke au pair nya. Bukan materi lho ya,tp apa kah kita nanti dibyarin sekolah bahasa nya,kpn aja dpt liburan. Nanti kan ketauan sendiri dr conversation itu,oohh ini family nya open-minded atau enggak:)

    • Gak ada biaya untuk jadi Au Pair kok. Tapi yang ada biaya untuk tiket PP ditanggung sendiri. Visa Au Pair ditanggung sama keluarga yang mengundang dan biaya akomodasi selama disana juga ditanggung mereka + biaya transportasi dalam kota (yg ini tergantung)

  2. Hiii 🙂 Salam kenal yaa 🙂 Aku ngepost nya di postingan lama bangettt, soalnya aku nemu certa mengenai Aupair 🙂 Aku juga dulu Aupair di belanda, tahun 2009-2010. Itu bener2 pengalaman gak terlupakan, seneng rasanyA bisa baca lagi tulisan cerita tentang aupair 🙂 Anyway, nice blog kaa, aku follow yaa 🙂

      • Dulu aku di Moordrecht, kota kecil, pedesaan deket sama Gouda, kak 🙂 ntar kalo aku maen ke Belanda lagi, mau ketemuan dunkk, nanti kita janjian yaaa kak, tukeran critaaa, hihihi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s